Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan realisasi domestic market obligation (DMO) Minyakita pada September 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut diperkirakan berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Bambang Wisnubroto mengatakan realisasi DMO Minyakita hingga September telah mencapai 106.003 ton. Angka tersebut masih diperkirakan bertambah hingga akhir bulan mengikuti perkembangan ekspor CPO.
Menurut Bambang, peningkatan pemenuhan DMO diperlukan untuk menjaga ketersediaan Minyakita di pasar domestik. Pemerintah berupaya memastikan peningkatan ekspor CPO tidak mengganggu pasokan minyak goreng rakyat di dalam negeri.
Selain menjaga pemenuhan DMO, Kemendag memperkuat distribusi Minyakita ke berbagai daerah, terutama kawasan Indonesia timur. Langkah tersebut menjadi perhatian karena sejumlah wilayah masih mencatat harga Minyakita di atas harga eceran tertinggi (HET).
Data Kemendag menunjukkan terdapat delapan provinsi dengan harga Minyakita lebih dari 5 persen di atas HET. Wilayah tersebut meliputi Papua Barat Daya, Papua, Maluku, Papua Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Penguatan distribusi juga disiapkan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Kemendag menyatakan upaya stabilisasi pasokan akan terus dilakukan agar harga minyak goreng tetap terkendali selama periode tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Kemendag mendorong BUMN pangan, khususnya Perum Bulog dan ID FOOD, untuk menyalurkan Minyakita secara berkelanjutan melalui pasar rakyat. Distribusi diarahkan terutama ke daerah Indonesia timur yang masih menghadapi tekanan harga.
Saat ini, stok Minyakita yang dikuasai BUMN pangan tercatat 523.577 ton atau sekitar 48,55 persen. Bulog menguasai sekitar 370.854 ton atau 34,38 persen, sementara ID FOOD memiliki stok sekitar 152.723 ton.
Kemendag juga mencatat distribusi Minyakita milik Bulog ke pasar telah mencapai 82,26 persen. Dengan stok yang lebih besar, Bulog diminta terus memobilisasi pasokan menuju wilayah yang harga Minyakita-nya masih berada di atas HET.
Pemerintah berharap kombinasi peningkatan DMO dan penguatan distribusi dapat menjaga ketersediaan Minyakita di pasar domestik sekaligus membantu mempertahankan stabilitas harga menjelang akhir 2026.
Yoga Adi adalah kontributor digital di Samudra Berita yang fokus menyajikan berita cepat, akurat, dan menarik bagi pembaca di seluruh Indonesia.



