PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re melakukan uji emisi terhadap kendaraan operasional dan kendaraan dinas perusahaan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak emisi kendaraan sekaligus mendukung program Langit Biru dan target pengendalian emisi.
Kepala Divisi TISL & ESG Indonesia Re Mardian Adhitya mengatakan pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat emisi kendaraan yang digunakan dalam aktivitas perusahaan. Hasil pemeriksaan juga menjadi acuan untuk memastikan kendaraan memenuhi ambang batas emisi yang berlaku.
Menurut Mardian, uji emisi tersebut merupakan langkah awal yang dilakukan secara sukarela di lingkungan perusahaan. Indonesia Re ingin mengetahui kondisi kendaraan secara langsung sebelum menentukan langkah lanjutan untuk mengurangi emisi.
โKami ingin secara sukarela mengukur emisi kendaraan yang kita pakai sehari-hari. Ini tahap awalnya, mengukur dulu di lingkungan perusahaan. Kita sama-sama ingin mencapai Langit Biru,โ kata Mardian dalam kegiatan uji emisi di Jakarta, Selasa.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Indonesia Re sebagai badan usaha milik negara (BUMN). Program tersebut sejalan dengan upaya mendukung target pemerintah dalam mengurangi emisi dan menuju net zero emission.
Mardian mengatakan upaya menjaga lingkungan tetap dilakukan meskipun Indonesia Re bergerak di sektor jasa keuangan. Perusahaan menerapkan berbagai inisiatif berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG untuk mengurangi dampak dari aktivitas operasional.
Indonesia Re Pasang Panel Surya
Selain melakukan uji emisi kendaraan, Indonesia Re telah memasang panel surya di lingkungan kantor. Panel surya juga dipasang melalui program TJSL di sekolah yang berada di sekitar kantor perusahaan.
Perusahaan turut menerapkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi penggunaan sumber daya. Salah satunya dengan mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan dan mendorong penggunaan tumbler dalam kegiatan rapat.
Indonesia Re juga menerapkan sistem kerja tanpa kertas atau paperless serta mendorong karyawan menggunakan transportasi umum. Menurut Mardian, saat ini sekitar 60 persen karyawan Indonesia Re telah menggunakan transportasi publik.
Perusahaan juga mulai melakukan pencatatan penggunaan air, listrik, dan bahan bakar secara lebih terukur sejak 2022. Data tersebut digunakan sebagai dasar evaluasi untuk mengurangi penggunaan sumber daya secara bertahap dari tahun ke tahun.
Kendaraan Listrik dan Hibrida Mulai Digunakan
Dalam kegiatan operasional, Indonesia Re juga mulai menggunakan kendaraan dengan teknologi yang lebih rendah emisi. Sejumlah kendaraan direksi telah menggunakan kendaraan listrik, sementara sebagian kendaraan kepala divisi menggunakan kendaraan hibrida.
Meski demikian, sebagian besar kendaraan operasional perusahaan masih menggunakan bahan bakar fosil. Bahkan, terdapat dua kendaraan operasional yang masih menggunakan bahan bakar diesel.
Karena itu, hasil uji emisi diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kendaraan yang digunakan perusahaan. Kendaraan yang menghasilkan emisi di atas ambang batas nantinya dapat memperoleh tindak lanjut berupa perawatan maupun perbaikan.
Mardian mengatakan perusahaan juga meminta masukan teknisi terkait langkah yang perlu dilakukan apabila terdapat kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi.
โHasil pengujian nantinya menjadi bahan evaluasi perusahaan dalam menentukan langkah perawatan atau perbaikan kendaraan agar emisinya dapat ditekan,โ ujarnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Indonesia Re berharap aktivitas operasional perusahaan dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan. Uji emisi kendaraan menjadi salah satu upaya untuk mengidentifikasi sumber emisi sekaligus mendorong penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Yoga Adi adalah kontributor digital di Samudra Berita yang fokus menyajikan berita cepat, akurat, dan menarik bagi pembaca di seluruh Indonesia.



