
Peristiwa yang merenggut belasan nyawa di Stasiun Bekasi Timur itu sebenarnya bermula jauh sebelum benturan keras terjadi. Rangkaian kejadian yang saling berhubungan dalam waktu sangat singkat inilah yang menjadi pemicu tragedi malam Senin.
Sebelum kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, taksi Green SM terhenti di tengah perlintasan kereta kawasan Bulak Kapal karena diduga mengalami gangguan mesin. Kendaraan tersebut berada di area rel sebelum akhirnya tertemper KRL menuju arah Jakarta. Kondisi itu menyebabkan perjalanan commuter line dari Jakarta menuju Cikarang terganggu dan rangkaian berhenti di jalur.
Berdasarkan kronologi awal, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo menegaskan hal tersebut. “Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL lintasan dekat Bulak Kapal yang membuat KRL-nya terhenti. KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” kata Franoto.
Menurut pengamat perkeretaapian, prinsip absolute block system persinyalan Indonesia menegaskan bahwa apabila ada satu rangkaian kereta di dalam satu petak jalan, sinyal masuk di arah stasiun sebelahnya harus berindikasi merah. Fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek dapat masuk hingga menabrak KRL di depannya menjadi hal yang harus didalami dan menjadi perhatian Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
Perusahaan taksi Green SM Indonesia menyatakan menaruh perhatian penuh pada insiden di perlintasan tersebut. “Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung,” demikian pernyataan resmi Green SM.
Efelem adalah kontributor digital di Samudra Berita yang fokus menyajikan berita terkini, informasi masyarakat, dan konten informatif bagi pembaca di seluruh Indonesia.
