Kasus kebakaran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan signifikan sepanjang musim kemarau 2026. Data dari sejumlah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan bahwa Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran tertinggi, didominasi oleh kebakaran lahan, rumah, serta bangunan usaha.
Meningkatnya intensitas kebakaran seiring dengan kondisi cuaca kering mendorong pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membakar sampah atau menggunakan peralatan listrik yang tidak memenuhi standar keamanan.
Berdasarkan catatan BPBD di masing-masing daerah, sebagian besar insiden terjadi pada Juni hingga Juli 2026, saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Gunungkidul Didominasi Kebakaran Rumah dan Lahan
BPBD Kabupaten Gunungkidul mencatat sedikitnya 53 kejadian kebakaran sejak Januari hingga akhir Juli 2026. Dari jumlah tersebut, lonjakan terbesar terjadi pada Juni dan Juli dengan rincian 12 kasus pada Juni dan 20 kasus hingga pertengahan Juli.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menjelaskan kebakaran paling banyak terjadi pada bangunan rumah yang mencapai 14 kejadian, disusul 11 kebakaran kandang ternak serta 14 kebakaran lahan yang mengakibatkan dua korban meninggal dunia.
Selain itu, kebakaran juga melanda enam tempat usaha, dua gudang, dua kendaraan, satu genset, satu sekolah, serta masing-masing satu kejadian di tempat ibadah dan dapur.
Bantul Catat 65 Kebakaran Selama Musim Kemarau
Sementara itu, BPBD Kabupaten Bantul melaporkan 65 kasus kebakaran sejak awal Juni hingga Juli 2026.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan, menyebut kebakaran lahan menjadi jenis kejadian yang paling dominan. Pada Juni tercatat delapan kebakaran lahan, sedangkan sepanjang Juli terjadi 19 kebakaran lahan dan rumpun bambu, sehingga total mencapai 25 kejadian.
Selain lahan, kebakaran juga menimpa 10 rumah, empat jaringan listrik, lima tempat usaha, enam gudang, serta 14 tumpukan sampah.
Menurut Kristanto, sebagian besar insiden dipicu oleh aktivitas membakar sampah dan barang bekas. Faktor lain yang turut menyebabkan kebakaran antara lain kebocoran gas, kelalaian, dan korsleting listrik.
Kulon Progo Alami Peningkatan Dibanding Tahun Lalu
Di Kabupaten Kulon Progo, BPBD mencatat jumlah kebakaran telah mencapai lebih dari 50 kejadian hingga akhir Juli 2026.
Kepala Seksi Damkar dan Penyelamatan BPBD Kulon Progo, Raden Chris Hartanto, mengatakan angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berkisar 40 kejadian.
Ia menyebut sebagian besar kebakaran juga terjadi selama bulan Juli, seiring meningkatnya suhu dan kondisi lingkungan yang lebih kering akibat musim kemarau.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah di area terbuka, memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. BPBD di seluruh wilayah DIY juga terus meningkatkan patroli, sosialisasi, dan kesiapsiagaan guna menekan risiko kebakaran selama musim kemarau berlangsung.
