Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadikan kematian seekor Gajah Sumatera di perkebunan kelapa sawit Aceh sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat perlindungan satwa dan pemulihan ekosistem. Kasus tersebut dinilai menunjukkan masih adanya persoalan yang perlu segera dibenahi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan laporan kematian gajah di Aceh diterimanya dari Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo pada Senin. Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan momentum Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Menurut Raja Juli, kematian satwa dilindungi di kawasan perkebunan menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pencapaian yang telah diraih. Pengelolaan habitat dan pemulihan ekosistem perlu dilakukan secara lebih serius untuk mengurangi ancaman terhadap satwa liar.
Data publikasi Kemenhut sebelumnya mencatat sedikitnya enam gajah mati sepanjang November 2025 hingga Juni 2026. Dua di antaranya ditemukan di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi.
Pemerintah kemudian memperkuat kebijakan perlindungan melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 mengenai penyelamatan populasi dan habitat Gajah Sumatera serta Gajah Kalimantan. Kebijakan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam meningkatkan langkah konservasi terhadap dua kelompok satwa tersebut.
Raja Juli mengatakan agenda restorasi ekosistem juga mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah berkomitmen memulihkan lahan kritis atau degraded land dengan cakupan mencapai 12 juta hektare.
Dari total tersebut, sekitar 6,7 juta hektare berada di kawasan hutan. Sementara itu, sekitar 1,27 juta hektare di antaranya merupakan kawasan konservasi yang menjadi bagian penting dalam pemulihan habitat satwa.
Adapun gajah yang menjadi perhatian terbaru ditemukan mati pada Minggu di Afdeling B Blok 34, Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.
Kepala Desa Kaloy Andi mengatakan warga menemukan bangkai gajah pada siang hari dalam kondisi tergeletak di jalan yang berada di antara tanaman kelapa sawit. Kasus tersebut kini ditangani Tim Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk mengetahui kondisi dan penyebab kematian satwa.
Fajar Ramadhan adalah kontributor di Samudra Berita yang fokus pada isu terkini, liputan masyarakat, dan penyajian berita digital cepat dengan pendekatan editorial modern.



