Indonesia mulai mendorong posisi geografisnya sebagai penghubung antara kawasan Eurasia dan Asia Tenggara menjadi keunggulan ekonomi. Strategi tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan ekspor, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai basis perdagangan, investasi, dan produksi bagi perusahaan dari kawasan Eurasia yang ingin memasuki pasar ASEAN.
Momentum untuk memperkuat ambisi tersebut muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok pada 3 September. Dalam forum ekonomi tersebut, Indonesia menawarkan peluang kerja sama dengan menempatkan negara sebagai salah satu pintu masuk strategis menuju pasar Asia Tenggara.
Prabowo menekankan besarnya potensi pasar ASEAN yang memiliki populasi sekitar 680 juta jiwa. Posisi tersebut diperkuat oleh pasar domestik Indonesia yang mencakup lebih dari 290 juta konsumen, sekaligus akses perdagangan melalui Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Dengan kombinasi pasar domestik yang besar dan keterhubungan dengan ASEAN, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi lokasi strategis bagi perusahaan Eurasia yang ingin memperluas aktivitas bisnisnya di kawasan. Namun, realisasi peluang tersebut membutuhkan lebih dari sekadar promosi akses pasar.
Salah satu fondasi kerja sama perdagangan telah tersedia melalui Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia tersebut ditandatangani pada Desember 2025.
Kesepakatan tersebut memberikan kerangka untuk memperluas akses perdagangan melalui penghapusan atau penurunan tarif. Berdasarkan perjanjian, sebanyak 11.882 pos tarif EAEU dan 10.257 pos tarif Indonesia tercakup dalam skema pengurangan atau penghapusan tarif.
Keberadaan perjanjian perdagangan memberikan peluang bagi pelaku usaha dari kedua kawasan untuk meningkatkan transaksi. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kerangka perdagangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang nyata.
Indonesia perlu memastikan arus barang dapat berlangsung dengan biaya yang kompetitif. Efisiensi logistik menjadi salah satu faktor penting karena biaya pengiriman dan waktu distribusi akan menentukan daya saing produk di pasar regional maupun internasional.
Selain logistik, kelancaran sistem pembayaran dan kepastian investasi juga menjadi bagian penting dalam membangun koridor ekonomi Eurasia-ASEAN. Infrastruktur perdagangan yang efisien diperlukan agar perusahaan tidak hanya menggunakan Indonesia sebagai jalur pemasaran, tetapi juga mempertimbangkannya sebagai lokasi produksi.
Investasi yang masuk diharapkan dapat menciptakan kapasitas manufaktur dan kegiatan ekonomi baru di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar tujuan atau tempat transit barang, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok regional.
Strategi tersebut pada akhirnya akan menentukan apakah posisi geografis Indonesia benar-benar dapat diubah menjadi keunggulan ekonomi. Jika akses perdagangan, logistik, pembayaran, dan investasi dapat berjalan secara terintegrasi, Indonesia berpeluang memperkuat perannya sebagai jembatan ekonomi antara Eurasia dan ASEAN.
Nadia Maharani adalah jurnalis digital di Samudra Berita yang fokus pada berita daerah, informasi gaya hidup, dan konten informatif bagi pembaca online di Indonesia.



