Hamas dan Fatah dilaporkan akan kembali bertemu di Kairo, Mesir, pada pekan depan untuk melanjutkan dialog nasional Palestina. Pertemuan yang kemungkinan digelar pada Senin tersebut menjadi upaya terbaru kedua faksi untuk membuka kembali jalur rekonsiliasi setelah bertahun-tahun mengalami perpecahan politik.
Seorang sumber mengatakan kepada Anadolu pada Jumat bahwa delegasi Hamas dan Fatah tengah mempersiapkan pertemuan tersebut. Komunikasi antara kedua kelompok disebut telah berlangsung selama beberapa bulan sebagai bagian dari usaha memulihkan dialog dan membahas tantangan politik yang dihadapi Palestina.
Pertemuan itu berlangsung setelah Ketua Biro Politik Hamas Khalil Al-Hayya bersama delegasinya berada di Kairo. Mereka melakukan pembicaraan dengan pejabat Mesir serta berdialog mengenai persoalan nasional bersama sejumlah perwakilan faksi politik Palestina.
Agenda pertemuan mendatang dinilai penting karena berlangsung di tengah situasi politik Palestina yang kompleks, termasuk persiapan menuju pemilihan legislatif yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas sebelumnya menerbitkan dekret pada 9 Juli yang menetapkan 28 November 2026 sebagai tanggal pelaksanaan pemilu di Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Pemilihan tersebut akan menjadi pemilu pertama Palestina dalam dua dekade apabila terlaksana sesuai jadwal.
Komisi Pemilihan Pusat Palestina juga telah memulai proses pendaftaran pemilih dan pembaruan data pada 15 Agustus. Hamas sebelumnya menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam sebuah koalisi nasional.
Upaya mempertemukan Hamas dan Fatah sebenarnya telah berlangsung berulang kali sejak konflik politik internal semakin menguat pada 2007. Setelah Israel melancarkan serangan ke Gaza pada Oktober 2023, Hamas disebut telah dua kali mengundang Fatah untuk membahas langkah politik dan nasional guna menghadapi krisis. Namun, kedua pertemuan tersebut tidak terlaksana.
Komunikasi antarpetinggi kedua faksi tetap berlanjut dan satu sesi dialog telah dilakukan, tetapi belum menghasilkan pertemuan langsung yang lebih luas. Rencana pertemuan yang sempat dijadwalkan pada Juli juga akhirnya ditunda tanpa penjelasan mengenai penyebabnya.
Sejarah rekonsiliasi kedua kelompok menunjukkan bahwa proses tersebut tidak mudah. Pada Juli 2022, Abbas bertemu dengan Ismail Haniyeh di Aljazair melalui mediasi Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune.
Beberapa bulan kemudian, pada Oktober 2022, sejumlah faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, menandatangani kesepakatan rekonsiliasi di Aljazair. Kesepakatan itu memuat komitmen untuk menggelar pemilihan presiden dan legislatif, tetapi agenda tersebut tidak terealisasi.
Pada Juli 2024, Fatah, Hamas, dan sejumlah kelompok Palestina lainnya kembali menandatangani Deklarasi Beijing yang bertujuan mengakhiri perpecahan politik serta membangun persatuan nasional. Namun, kesepakatan tersebut juga belum mampu menghasilkan rekonsiliasi permanen.
Menjelang rencana pertemuan di Kairo, Ketua Dewan Nasional Palestina Rawhi Fattouh disebut telah menghubungi Hamas setelah Abbas mengumumkan jadwal pemilu. Kedua faksi kemudian dilaporkan kembali mencapai kesepakatan untuk bertemu.
Kairo sendiri selama bertahun-tahun menjadi salah satu mediator utama dalam dialog internal Palestina, khususnya antara Fatah dan Hamas. Meski sejumlah perundingan sebelumnya belum menghasilkan penyatuan politik, peran Mesir kembali menjadi penting menjelang agenda pemilu.
Pertemuan pekan depan akan menjadi ujian baru bagi hubungan kedua faksi. Selain membahas rekonsiliasi, dialog tersebut berpotensi menentukan bagaimana Hamas dan Fatah merespons tekanan politik serta kondisi di Gaza menjelang pemilihan Palestina 2026.
Nadia Maharani adalah jurnalis digital di Samudra Berita yang fokus pada berita daerah, informasi gaya hidup, dan konten informatif bagi pembaca online di Indonesia.


