Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mengajak generasi muda untuk tetap berpikir kritis di tengah semakin kuatnya pengaruh kecerdasan artifisial (AI) dan algoritma media sosial. Ia menilai anak muda tidak boleh menyerahkan proses berpikir maupun masa depan bangsa kepada teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan bertajuk โAI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?โ di Jakarta, Kamis.
Menurut Ibas, algoritma media sosial memiliki kemampuan membentuk pola informasi yang diterima pengguna berdasarkan aktivitas mereka. Konten yang sering ditonton, disukai, dibagikan, maupun dilewati dapat memengaruhi rekomendasi informasi berikutnya.
Kondisi tersebut membuat pengguna terkadang merasa sepenuhnya menentukan informasi yang ingin dilihat. Padahal, algoritma juga berperan dalam menentukan jenis konten yang muncul di hadapan pengguna.
Pengaruh algoritma menjadi semakin penting ketika masuk ke ruang politik. Menurut Ibas, sistem rekomendasi dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi mengenai pemerintah, kebijakan publik, calon pemimpin, hingga berbagai persoalan sosial.
Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran. Konten yang mendapatkan jutaan tayangan maupun dibagikan secara luas tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber informasi lainnya.
Ibas menilai demokrasi di era digital tidak cukup hanya mengandalkan kebebasan berbicara. Masyarakat juga membutuhkan kebebasan berpikir dengan cara memeriksa data, mendengarkan berbagai sudut pandang, serta terbuka terhadap kemungkinan bahwa informasi atau pandangan yang diyakini bisa saja keliru.
Ia juga mendorong politisi memanfaatkan platform digital seperti TikTok untuk menyampaikan gagasan kepada masyarakat. Namun, jumlah pengikut dan tayangan tidak seharusnya menjadi indikator utama kualitas seorang pemimpin.
Menurut Ibas, tingginya jumlah views tidak otomatis mencerminkan kepemimpinan, begitu pula banyaknya followers tidak selalu menunjukkan tingkat kepercayaan publik. Konten yang populer juga berbeda dengan kebijakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Di sisi lain, Ibas meminta anak muda tidak hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Kepedulian terhadap pendidikan, lapangan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, lingkungan, dan keadilan sosial juga merupakan bentuk keterlibatan politik.
Ia mengajak generasi muda memanfaatkan berbagai saluran demokrasi untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi. Menurutnya, partisipasi tersebut penting agar anak muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi turut menentukan arah kebijakan dan masa depan bangsa.
Ibas kemudian merangkum pesannya melalui tiga prinsip, yaitu Think Deep, Participate, dan Lead. Ketiganya menjadi ajakan agar generasi muda berpikir mendalam, aktif berpartisipasi, serta berani mengambil peran kepemimpinan.
Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat yang digunakan manusia, bukan sebagai pihak yang menentukan masa depan Indonesia.
Nadia Maharani adalah jurnalis digital di Samudra Berita yang fokus pada berita daerah, informasi gaya hidup, dan konten informatif bagi pembaca online di Indonesia.



