Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa festival musik berskala internasional seharusnya tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai wadah kolaborasi yang mempertemukan pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Irene saat menerima audiensi penyelenggara LaLaLa Fest di Autograph Tower, Jakarta. Menurutnya, penyelenggaraan festival perlu dirancang agar mampu menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi tamu internasional sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia.
Irene menilai kehadiran delegasi dari berbagai negara merupakan momentum strategis untuk memperkenalkan beragam potensi kreatif Indonesia. Selain menikmati pertunjukan musik, para peserta diharapkan dapat mengenal produk lokal, budaya, hingga berbagai subsektor ekonomi kreatif yang menjadi kekuatan Indonesia di pasar global.
Ia menjelaskan, semakin banyak pengalaman yang diperoleh para delegasi selama berada di Indonesia, semakin besar pula peluang terciptanya kerja sama lanjutan, baik dalam bentuk investasi, promosi karya, maupun kolaborasi lintas negara.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan festival, Kementerian Ekonomi Kreatif akan memperkuat promosi internasional, memfasilitasi penyambutan delegasi luar negeri, meningkatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mengintegrasikan subsektor ekonomi kreatif seperti kuliner, kriya, fesyen, dan layanan pendukung lainnya agar manfaat ekonominya semakin luas.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Ekraf juga mempererat kerja sama dengan PT Indo The Nusantara, penyelenggara LaLaLa Fest, guna memperluas jaringan industri musik Indonesia di tingkat internasional.
Audiensi tersebut membahas persiapan LaLaLa Fest 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 22โ23 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Selain itu, dibahas pula program kolaborasi Taiwan Beats in Jakarta serta pembentukan Asia Pacific International Music Festival Association (APIMFA) sebagai forum kerja sama antarpenyelenggara festival musik di kawasan Asia Pasifik.
Sejak pertama kali digelar pada 2016, LaLaLa Fest berkembang menjadi festival musik dan seni bertaraf internasional. Memasuki tahun ke-10 penyelenggaraannya, festival ini kini bertransformasi menjadi platform yang mempertemukan musisi, promotor, label rekaman, publisher, hingga pelaku industri musik dari berbagai negara.
Pada penyelenggaraan tahun ini, LaLaLa Fest menggandeng Taiwan Beats melalui rangkaian kegiatan di Manila dan Jakarta yang melibatkan sekitar 50 delegasi industri musik Taiwan. Agenda tersebut mencakup sesi networking dan business matching untuk memperkuat pertukaran talenta, memperluas promosi karya, serta membuka akses pasar yang lebih besar bagi industri musik Indonesia.
Direktur Utama PT Indo The Nusantara, Donny Heru, turut menyampaikan apresiasi atas dukungan dan masukan yang diberikan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mendukung penyelenggaraan LaLaLa Fest 2026.
Fajar Ramadhan adalah kontributor di Samudra Berita yang fokus pada isu terkini, liputan masyarakat, dan penyajian berita digital cepat dengan pendekatan editorial modern.



