Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income countries). Dengan perubahan tersebut, kedua negara menyusul Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai anggota kelompok negara berpendapatan menengah atas di kawasan ASEAN, sementara Indonesia masih berada dalam kategori negara berpendapatan menengah bawah (lower-middle income).
Penetapan itu didasarkan pada peningkatan pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita yang dihitung menggunakan metode Atlas Bank Dunia. Vietnam dan Filipina dinilai berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat selama beberapa tahun terakhir, didukung oleh ekspansi sektor manufaktur, investasi asing, ekspor, serta konsumsi domestik yang terus meningkat.
Kenaikan status tersebut dipandang sebagai pengakuan atas keberhasilan kedua negara menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain memperkuat kepercayaan investor, status baru ini juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik Vietnam dan Filipina sebagai tujuan investasi global.
Dengan bergabungnya kedua negara tersebut, kini terdapat lima negara ASEAN yang masuk kategori menengah atas atau lebih tinggi, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Indonesia masih berada satu tingkat di bawahnya bersama sejumlah negara berkembang lainnya di kawasan.
Meski demikian, status sebagai negara berpendapatan menengah bawah tidak selalu mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi. Indonesia masih memiliki ekonomi terbesar di ASEAN berdasarkan produk domestik bruto (PDB), didukung oleh pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, serta bonus demografi yang dinilai menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Para ekonom menilai Indonesia masih memiliki peluang untuk naik ke kelompok negara berpendapatan menengah atas apabila mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara konsisten, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mempercepat hilirisasi industri, memperluas investasi, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia. Reformasi struktural juga dinilai menjadi faktor penting agar pendapatan per kapita terus meningkat sesuai ambang batas yang ditetapkan Bank Dunia.
Kenaikan status Vietnam dan Filipina menjadi indikator semakin ketatnya persaingan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi agar mampu keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah bawah dan meningkatkan daya saing di tingkat regional maupun global.


