Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pemerintah dan pengelola pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir 2026 hingga awal 2027. Perencanaan penggunaan cadangan air secara tepat dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan listrik nasional selama musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa informasi curah hujan harus dimanfaatkan sebagai dasar dalam mengatur operasi PLTA. Menurutnya, periode cuaca panas biasanya diikuti peningkatan konsumsi listrik akibat penggunaan pendingin ruangan yang semakin tinggi, sementara pada saat yang sama debit air di waduk dan danau cenderung mengalami penurunan.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kapasitas pembangkit listrik tenaga air apabila pengelolaan sumber daya air tidak dilakukan secara terukur. Oleh karena itu, BMKG meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PLN, serta para pengelola bendungan memanfaatkan pembaruan data iklim sebagai acuan dalam menentukan pola operasi turbin air.
Menurut Ardhasena, manajemen alokasi air yang presisi akan membantu menjaga stabilitas produksi listrik dari PLTA selama periode puncak musim kemarau. Langkah antisipasi sejak dini juga diyakini mampu mempertahankan keandalan pasokan energi nasional meskipun terjadi peningkatan suhu akibat El Nino.
BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlanjut dan berpotensi mencapai intensitas tertinggi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Berdasarkan pemantauan terbaru, terdapat peluang El Nino berkembang melampaui kategori kuat sehingga dampaknya terhadap pola iklim di Indonesia perlu terus diwaspadai.
Laporan Direktorat Klimatologi BMKG menunjukkan musim kemarau semakin meluas pada dasarian terakhir Juli 2026. Sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan hanya 77 Zona Musim yang masih berada pada musim hujan.
Secara geografis, musim kemarau telah mendominasi wilayah selatan khatulistiwa, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua. BMKG menjelaskan kondisi tersebut masih sesuai dengan pola klimatologi Indonesia, di mana musim kemarau umumnya dimulai dari Nusa Tenggara Timur sebelum bergerak secara bertahap ke wilayah barat.
Melalui pemanfaatan informasi iklim dan pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif, BMKG berharap pasokan listrik nasional tetap terjaga sekaligus mampu mengurangi risiko gangguan energi selama berlangsungnya fenomena El Nino.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.
